April 2, 2020 Jawa Pers

Bedah Buku “Hari-hari Terakhir Bersama Gus Dur”

Jakarta, Jawapers – Seperti kepada sahabat dekatnya, Abdullah Syafei’ie secara terbuka mengemukakan kegelisahannya sebagai orang Aceh. ‘Sejak aman kolonial Belanda, kami tidak pernah merdeka!’ katanya dengan nada mengeluh sekaligus memprotes. ‘Tapi kenapa kita harus terlibat konflik?’ saya balik bertanya, mengajukan apa yang ada dalam pikiran. …” Itulah sepenggal kisah dalam buku Hari-hari Terakhir Bersama Gus Dur karya Bondan Gunawan. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Bondan sebagai Pjs Sekretaris Negara (Sesneg) menemui Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 16 Maret 2000. Pertemuan itu ia tempuh untuk melakukan pendekaan akemanusiaan kepada sesama anak bangsa yang tidak puas terhadap pemerintah pusat.

Kisah pertemuan Bondan dan Abdullah Syafei’ie tersebut memang sudah beredar di media cetak dan televisi. kita kali ini bisa melihat lebih rinci latar belakang proses pertemuan itu, yang ditulis Bondan dalam bukunya. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas (PBK) tersebut diluncurkan dalam sebuah acara sederhana di Museum Nasional, Rabu malam, 25 Juli 2018. Acara peluncuran yang bertajuk “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi untuk Indonesia Raya” ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Prof. Dr. Mochtar Pabottingi dan Dr. Yudi Latief”.

Buku tersebut sebenarnya menceritakan kisah persahabatan Bondan dan Gus Dur yang berjibaku merintis tegaknya demokrasi di Tidak terbayangkan, dua sahabat ini—bersama beberapa rekan mereka—berinisiatif dan memprakarsai berdirinya Forum Demokrasi (Fordem) tahun 1991. Mereka seperti-kumpulan “orang aneh” yang mengambil opsi untuk melawan kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Menurut F. Rahardi, yang menulis “Kata Pengantar” buku ini, Fordem merintis keberanian berpikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat di negeri ini. Memang perjuangan berdemokrasi telah muncul jauh sebelum Fordem berdiri dalam sikap 50 orang yang secara frontal berseberangan dengan Orde Baru melalui Petisi 50. Namun, Petisi 50 secara spesifik mengoreksi kebijakan Presiden Soeharto; gerakan yang berbeda dengan Fordem. Fordem menentang arus besar penyeragaman berpikir, yang secara massif diterapkan sebagai sarana depolitisasi di negeri ini pada era kekuasaan Soeharto.

Dengan demikian, buku yang muncul pada momen 20 tahun Reformasi di negeri ini menjadi pelengkap atas puzzle perjuangan menegakkan demokrasi. Demokrasi di Indonesia pasca-Reformasi bukan hal yang tiba-tiba saja mewujud. Persahabatan Bondan dan Gus Dur yang dalam perjalanannya membidani lahirnya Fordem merupakan rintisan perjuangan ke arah demokrasi di negeri ini. “Kiprah Pak Bondan di Fordem sangat berpengaruh sebab dia memiliki pandangan yang tajam, seimbang, dan sehat mengenai demokrasi yang harus diimplementasikan di Indonesia. Dia peka terhadap deviasi-deviasi kepicikan seakan-akan antara agama dan kebangsaan harus memilih,” tulis Romo Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J., dalam salah satu komentarnya terhadap buku karya Bondan ini.

Persahabatan Bondan dengan Gus Dur telah menorehkan rintisan demokrasi di negeri ini. Bondan—yang berlatar belakang “Abangan” dan aktivis pergerakan—berkolaborasi dengan
Gus Dur yang lahir dari kehidupan “Santri”, yang didasari tradisi intelektualitas kuat. Dua Elemen ini saling mengisi dan memberi warna. Tidak mengherankan jika keduanya memiliki kesamaan visi penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, kepedulian yang besar kepada golongan minoritas dan elan perjuangan untuk menempatkan semua warga negara berkedudukan sama di muka hukum. Perjuangan dua figur yang membidani lahirnya Fordem ini dilihat oleh F. Rahardi sebagai jejak-jejak perintis. “Sebagai perintis, nasib Fordem seperti semua perintis, mati, atau dilupakan setelah yang diperjuangkan tercapai. Bondan sempat sebentar ‘mencicipi’ masuk ke dalam pemerintahan; tetapi segera dihajar kiri kanan, lalu tersingkir,” tulis Rahardi dalam “Kata Pengatar”. “Nasib perintis memang hanya berada di kawasan tandus, saat tanaman lain belum ada. Dalam kaitan dengan demokrasi, keterbukaan, dan penghargaan terhadap HAM, Bondan dan Gus Dur punya andil sangat besar, dimulai pada saat merintis gerakan melalui Fordem,” lanjut Rahardi.

Momen 20 tahun Reformasi—tepatnya pada Mei lalu—menjadi saat yang baik untuk merefleksikan potongan-potongan kisah bagi kondisi bangsa kita dewasa ini. Secara pribadi, Bondan mengungkapkan bahwa banyak cerita muncul dan beredar, yang masih “berkabut” hingga saat ini. “Yang jelas,” ungkap Bondan, “Saya dan Gus Dur menolak segala aktivitas yang dikemas atau bisa ditafsirkan secara konspiratif. Kami berdua saling meyakini bahwa banyak hal yang ada di hadapan kita, sebenarnya dapat dielaborasi, dicari titik temunya dalam proses keterbukaan. Prinsip transparansi menjadi begitu penting dalam proses mencari kesepahaman ini.” Proses mencari titik temu bersama itulah yang hingga kini dinilai Bondan sebagai hal yang harus terus diperjuangkan dalam kehidupan bersama. Huru-hara dan ributribut yang tidak bermutu sudah banyak menghiasi media kita, mempertontonkan banyak sandiwara yang hanya merugikan bangsa dan negara ini. Menurut Bondan, momen kali ini menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan perjuangan kita sebagai bangsa selama ini, sembari memberi bekal bagi generasi muda.

“Sebagai orang muda, sudah selayaknya dipahami bahwa bentuk-bentuk kegiatan bersama demi kepentingan yang lebih besar itu pasti penuh risiko dan tidak jarang berbuah cemooh. Namun, tercapainya sesuatu yang kita pikirkan sebagai tujuan yang lebih besar dan luhur—dibanding pujian dan kenikmatan yang bersifat sesaat—harus kita perjuangkan. Jangan pernah lelah!” tegas Bondan. Dia melanjutkan bahwa para pemimpin mestinya harus rela dan berani untuk tidak populer demi tercapainya maksud baik bagi semakin banyak orang, bagi saudara-saudari satu-tumpah-darah.

Pesan tersebut muncul dan seolah menjadi kristalisasi pengalaman Bondan yang anya sebentar membantu terlibat di puncak pemerintahan pada era Gus Dur. Meskipun emikian, Bondan tetap hidup biasa-biasa saja. Padahal, banyak aktivis yang gagal, lalu rustasi, kemudian berubah dari pemberi solusi menjadi bagian dari masalah. Namun, Bondan ustru tidak banyak omong dan tidak terlalu populer menjadi langganan media, walaupun anyak informasi penting yang bisa digali dari sumber ini. Hal ini dirasakan oleh Gunretno, oordinator Jaringan Masyarakat pedulf Pegunungan (JMPPK) yang banyak elajar dari Bondan. “Ketika itu, saya terkejut melihat di televisi yang menayangkan Pak ondan mengundurkan diri sebagai menteri untuk mempermudah penyidik memeriksanya rena tuduhan korupsi. Sebuah keputusan sangat berani karena tak semua orang bisa legawa. mpai sekarang, mana ada pejabat publik yang berani mengundurkan diri jika belum divonis

Buku karya Bondan yang diluncurkan ini mengisahkan Gus Dur di luar pemerintahan, masa transisi menuju era Reformasi, hingga perjuangan mereka didalam pemerintaham Meskipun hanya sebentar di dalam pemerintahan karena dihantam kirikanan, kiprah mereka meninggalkan banyak kemajuan bagi kebaikan bersama di negeri ini. Pergaulan mereka dengan berbagai elemen sesama anak bangsa dari aneka latar belakang, menyemaikan benih-benih semangat persaudaraan sejati yang bisa kita nikmati hingga kini. Dua sahabat ini memiliki sebutan untuk masing-masing yang khas. Bondan bersama beberapa rekan seperjuangannya berhasil menyematkan julukan istimewa bagi Gus Dur sebagai “Guru Bangsa”. Sementara itu, Gus Dur menyebut Bondan sebagai “banteng yang berkeliaran di mana-mana di luar habitatnya”—sebagai kiasan bahwa dialah seorang nasionalis, Marhaenis, atau Soekamois yang bergerak di luar organisasi resmi kaum nasionalis. Bahkan, ketika berkunjung ke Israel, Gus Dur memperkenalkan Bondan di forum internasional sebagai seorang Soekamois dan tokoh klandestin pelanjut pemikiran Sockarno di zaman pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto.

Suatu ketika, Gus Dur pernah mengatakan kepada Bondan bahwa karena dirinya mendalami dan memahami Kitab Kuning, dia (dan para kiai NU) percaya bahwa “Setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Betapa pun rumitnya, selalu bisa dicarikan solusinya, tetapi bukan menyederhanakan masalah.” Inilah yang merujuk pada nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Menurut Gus Dur, itulah sebabnya dalam konteks nasional, pemuka-pemuka Islam di Indonesia memilih NKRI sebagai negara-bangsa (nation-state) yang mengutamakan wawasan serta pendekatan kebangsaan; dan bukan negara Islam!

Terkait refleksi kebangsaan tersebut, Bondan menandaskan bahwa di Indonesia, tidak pemah terjadi pergantian kekuasaan secara radikal! “Ketika terjadi instabilitas politik,” tegas Bondan, “Tak pernah ada presiden yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, misalnya membenarkan dili lalu memenangkan konflik horisontal.” Menurut refleksinya, Presiden Indonesia berusaha menyatu dengan rakyatnya. Itulah yang terjadi pada Soekamo. Sebaliknya, tidak pernah ada percobaan kudeta secara radikal yang didukung, lalu dibenarkan oleh rakyat. “Inilah salah satu keutamaan kita sebagai bangsa yang besar.”

Oleh karena itu, melakukan reformasi pada hakikatnya berarti melakukan pemurnian. Dikaitkan dengan momen 20 tahun Reformasi di Indonesia, gerakan reformasi di satu pihak muncul sebagai reaksi berupa penolakan terhadap berbagai penyimpangan, kekeliruan, penyalahgunaan wewenang, yang berakibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pascapemerintahan Orde Baru. Sedangkan di lain pihak, reformasi merupakan upaya memasuki era baru untuk membenahi dan mengembalikan sistem negara dari negara kekuasaan menjadi negara kesejahteraan yang berkeadilan sosial. “Maka, demokrasi politik saja tidaklah cukup; harus ada demokrasi ekonomi. Inilah demokrasi Indonesia yang sesungguhnya. Harapan saya, kita—terutama generasi muda—dapat bersama-sama bergandengan tangan menciptakan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi bagi Indonesia Raya,” demikian Bondan Gunawan.
(Indra)

 

Related Posts

KONSER PUTIH BERSATU DI PENUHI RATUSAN RIBU PENDUKUNG JOKOWI

April 13, 2019

April 13, 2019

Jakarta, Jawapers – Barisan massa pendukung Capres dan Cawapres nomor urut 01 Jokowi – Maruf Amin padati kawasan Gelora Bung...

Tim Intelmar Berhasil Menangkap Penyelundup Asal Thailand

August 12, 2019

August 12, 2019

Belawan, Jawapers – Penyelundupan hewan unggas jenis ayam adu diduga dari negara Thailand yang diangkut menggunakan boat GT 8 –...

BEKRAF GELAR ACBS DUKUNG PENGEMBANGAN INDUSTRI KONTEN KREATIF ASIA

September 17, 2019

September 17, 2019

Jakarta, Jawapers – Selasa 17 Septrmber 2019 . Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) akan menyelenggarakan Asia Content Business Summit (ACBS) 2019...

UPACARA PERINGATAN HUT KE – 74 KORPS BRIMOP POLRI, BERTEMPAT DI LAPANGAN MAKO BRIMOB POLRI, KELAPA DUA CIMANGGIS DEPOK JAWA BARAT

November 14, 2019

November 14, 2019

Jakarta, Jawapers – Kamis 14 November 2019. Upacara dalam rangka peringatan HUT Ke-74 Korps Brimob Polri yang dilaksanakan di Mako...

BPDPKS DUKUNG INDUSTRI SAWIT INDONESIA BERKELANJUTAN

December 20, 2019

December 20, 2019

Jakarta, Jawapers. Co.id. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memberi dukungan untuk industri sawit Indonesia lebih berkelanjutan. Badan Layanan...

SEDULUR JOKOWI BUKA PUASA BERSAMA SANTUNAN ANAK YATIM DAN DHUAFA MELALUI KEBERSAMAAN KITA TINGKATKAN KEPERDULIAN SOSIAL KEPADA MASYARAKAT

May 26, 2019

May 26, 2019

Jakarta, Jawapers – 26 Mei 2019. Buka Puasa Bersama dan Santunan Melalui Kebersamaan Kita Tingkatkan Keperdulian Sosial Kepada Masyarakat. Sedulur...

DI LAPAS CEK KESEHATAN CEGAH HEPATITIS C BAGI PARA TAHANAN DAN BAGI PETUGAS PEMASYARAKATAN

September 21, 2019

September 21, 2019

Jakarta, Jawapers – kamis 19 September 2019. Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami mengimbau agar para petugas lapas dan rutan melakukan pengecekan terhadap penyakitHepatitis C....

Kini, Narapidana Bisa Kuliah Di Kampus Kehidupan

October 19, 2018

October 19, 2018

Tangerang, Jawapers – Sebanyak 33 narapidana dari seluruh Indonesia berkesempatan mengikuti program Kampus Kehidupan usai lulus seleksi ketat yang diselenggarakan...

7 Warga Transmigrasi Cikopo Kabupaten Purwakarta, meminta Bantuan Hukum ke Kantor Pengacara Soleman B. Ponto & Partners ( LAW FIRM ) untuk Keadilan.

September 15, 2018

September 15, 2018

Jawa Barat, Jawapers – 7 Warga dari keluarga Pemukim Transmigrasi Cikopo Sejak 1977 yang Memohon Perlindungan dan Meminta Keadilan, Atas dugaan...

Dirut KAI Edi Sukmoro Gelar Inspeksi Dadakan di Stasiun Medan

January 16, 2020

January 16, 2020

Dirut KAI Edi Sukmoro Gelar Inspeksi Dadakan di Stasiun Medan   Medan, Jawapers.co.id   Medan, Sebagai bentuk peningkatan program pembenahan...

Ikut Berperan Serta Dalam TMMD, Dandim Lotim Berikan Hadiah dan Piagam

August 9, 2018

August 9, 2018

Nusa Tenggara Barat, Jawapers – Usai Upacara penutupan TMMD ke 102 tahun 2018 Kodim 1615/Lotim yang berlangsung sederhana, namun dibalik itu Dandim...

Saiful Arifin : Tingkatkan Produksi Dan Kwalitas Garam Dunia

April 8, 2018

April 8, 2018

  jawapers.com,jakarta – Rapat Koordinasi Bidang Nasional III Kemaritiman PDI Perjuangan dihadiri oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar beserta Ketua Umum...

KAPOLRI DAN PANGLIMA TNI Di, PILAR NKRI ADA DI PUNDAK TNI / POLRI

December 27, 2019

December 27, 2019

Kupang, Jawapers – Selasa 24 Desember 2019. Kapolri Jenderal Pol Drs Idham Azis, MSi menegaskan kalau Polri dan TNI bertanggungjawab...

REMISI NATAL 160 NARAPIDA LANGSUNG BEBAS

December 25, 2018

December 25, 2018

Jakarta, Jawapers – 25 Desember 2018. Info PAS,- 11.232 narapidana Kristiani mendapatkan pengurangan masa hukuman dan 160 orang di antaranya...

STOK PANGAN , DAGING HEWAN, AYAM , TELUR AYAM JELANG NATAL 2019 DAN TAHUN BARU 2020 AMAN

December 24, 2019

December 24, 2019

Jakarta, Jawapers – Senin 23 Desember 2019. Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan...

Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published.